Impian yang Serupa
Andi,
24 tahun, adalah seorang fotografer amatir yang setiap akhir pekan menyusuri
sudut-sudut kota dengan kameranya. Ia tak pernah lelah berburu cahaya,
membingkai momen yang tak akan kembali. Baginya, setiap jepretan adalah puisi
diam yang bicara lebih jujur dari kata-kata.
Andi
selalu percaya bahwa dunia menyimpan cahaya di tempat-tempat tak terduga. Di
antara retakan dinding, di genangan air selepas hujan, atau di mata anak kecil
yang tertawa meski hujan mengguyur. Ia belajar melihat semua itu lewat lensa
kamera—kamera yang ia beli diam-diam dari uang jasa memotret wisuda
teman-temannya.
Namun, di
rumah, cahaya seolah tidak pernah hadir. Hanya bayangan ekspektasi yang
menempel di dinding, menyelinap di sela kursi ruang tamu, merayap di meja
makan, dan membekas di wajah ayahnya.
Diam-diam,
Andi menyimpan beban. Ia adalah anak tunggal yang sejak kecil digadang-gadang
untuk menjadi penerus bisnis keluarga.
Pak
Hartono, ayah Andi, adalah pemilik Hartono Motor, salah satu dealer mobil
paling besar dan tertua di kota itu. Nama keluarganya terpatri di papan reklame
yang menyala di simpang jalan utama, disandingkan dengan berbagai penghargaan:
Best Dealer of the Year, Top Performance Regional Jawa. Semua orang mengenalnya
sebagai pengusaha disiplin, tangguh, dan sukses.
“Ayah membangun semua ini dari nol,” kata
Hartono suatu malam. “Kamu tinggal meneruskan. Jangan buang waktumu untuk hobi fotografi
yang nggak jelas itu.”
Andi
menggenggam kameranya. Baginya, fotografi bukan sekadar hobi. Itu napasnya.
“Dealer
ini adalah masa depan kamu, suka tidak suka kamu adalah penerusnya!” katanya
suatu malam sambil menepuk meja makan.
Andi
menggenggam sendok semakin erat. Ujung sendok bergetar halus di piring. Ia
ingin bicara. Tapi seperti biasa, Ibunya hanya menatap dari seberang meja,
diam-diam memberi isyarat: cukup. Diam.
Namun
malam itu, Andi tak bisa lagi menahan diri.
“Fotografi
bukan angan-angan semu, Yah. Itu... caraku memahami dunia. Aku tidak bisa
meninggalkannya begitu saja”
Pak
Hartono terdiam. Ada jeda panjang. Baru kemudian ia menggeleng pelan. Pak
hartono kemudian berdiri dan pergi tanpa sepatah kata meninggalkan Andi dan
ibunya yang duduk terdiam di meja makan.
Malam
itu, Andi duduk sendiri di kamar, membuka folder foto di laptop. Satu gambar ia
klik: seorang anak kecil berlari menembus hujan, payung terbalik, tawa lepas.
Di belakangnya, cahaya warung memantul di genangan air—lingkaran cahaya yang samar,
tapi hangat.
Foto itu
ia ambil dari dalam mobil ayahnya yang di parkir di pinggir jalan ketika mereka
sekeluarga bepergian.
Laman
kompetisi bertema “Light and Shadow” terbuka di layer laptopnya. Formulir sudah
terisi. Foto sudah terunggah. Tapi jari telunjuknya berhenti sebelum menyentuh
tombol “Kirim”.
Lalu laptop ditutup. Ia hanya menatap layar kosong, merasa ragu. Mungkin, ia
takut melangkah, takut jika akhirnya ia tidak diterima, atau jika ayahnya akan
merasa kecewa lagi.
Dunia memang punya cara sendiri untuk menghancurkan sebuah tekad.
Tiga
minggu kemudian, situasi berubah.
Ayahnya
terserang stroke. Dalam kondisi itu, Andi terpaksa menggantikan tugas ayahnya sebagai manajer
dealer. Kamera disimpan di sudut meja di kamarnya. Cahaya di matanya meredup
sedikit demi sedikit setiap hari. Hari-hari dipenuhi dengan pekerjaan yang
datang bertubi-tubi, dan ia merasa semakin terjebak dalam rutinitas yang tak
pernah ia pilih.
Hari demi
hari, Kondisi kesehatan ayahnya menurun drastis. Sejak malam serangan itu, Pak
Hartono tak bisa lagi bicara. Hanya tatapan kosong yang kadang terlihat ingin
mengatakan sesuatu, tapi tak pernah sampai.
Hingga
akhirnya, Pak Hartono tak pernah pulih sepenuhnya. Ia pergi dalam diam, di
ruang perawatan rumah sakit. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada kalimat
perpisahan.
Pemakaman
berjalan sunyi. Di antara karangan bunga dari rekan bisnis dan karyawan, Andi
berdiri sendiri. Lebih dari kehilangan, ia merasa... hampa.
Dalam
hatinya, ia tahu ada sesuatu yang masih tertinggal—sesuatu yang belum ia pahami
sepenuhnya tentang ayahnya.
Beberapa
hari setelahnya, ibunya memanggilnya ke ruang kerja ayahnya. Ada sebuah kotak
kayu di atas meja, sedikit berdebu.
“Ini,”
kata ibunya lirih. “Beberapa hari sebelum stroke, Ayahmu menyerahkan kotak ini
dan bilang: kasih ke Andi, kalau waktunya sudah pas. Ibu juga baru tahu isinya
tadi pagi.”
Andi
membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya: kamera analog tua dengan
bodi besi yang pudar, tiga gulungan film masih terbungkus, dan sebuah amplop
kecil.
Tangannya
bergetar saat membaca isi surat itu.
“Andi,
Kamu
mungkin nggak tahu, tapi dulu aku juga hobi memotret. Diam-diam. Waktu kamu
kecil, waktu ibumu tertidur di sore hari.
Kamera ini... saksi impian ku di masa lalu yang nggak pernah berani untuk aku perjuangkan.
Aku bangun
dealer ini bukan karena mimpi, tapi karena takut.
Takut gagal. Takut miskin. Takut jadi laki-laki yang tak berguna di mata
keluarga.
Maaf aku
nggak sempat bilang.
Jangan
ulangi penyesalanku, Andi.
Jangan warisi ketakutan. Warisilah keberanian.
Ayah.”
Tangis
Andi pecah. Tapi bukan karena kehilangan. Karena luka itu, ternyata bukan
miliknya sendiri. Ternyata selama ini, ayahnya diam-diam menyimpan sebuah
rahasia yang tak sempat tersampaikan: Impian yang
serupa.

Komentar
Posting Komentar